Matilah Sebelum Kau Mati

sumber foto : sastrawacana.id
Saat kumenari dalam gelap malam
Kuhempas rayuan si merah maram
Tak pernah bosan menyanyikan gemeretak keraguan
Pada hati setiap aku yang rindu peraduan
Cahaya terpancar melalui jendela
Terselip lembut tanpa suara
Cahaya masuk lewat mata
Bersua mesra dengan cinta
Saat cinta mengerdip dalam jiwa
Ku tak ingat lagi aku siapa
Jatuh, luluh sejadi-jadinya
Kanvas dunia hanya apa
Tak mampu melukis rona indah-Nya
Kumencintai-Mu seperti hujan
Rela jatuh tersungkur batuan
Demi harapan yang kuselipkan
Senyum simpul-Mu di ujung jalan
Mereka selalu bertanya Kau di mana
Padahal cinta-Mu terlalu jelas untuk dirasa
Tubuhku kaku saat merindu
Bibir kelu saat kututur nama-Mu
Hingga matahari tak punya bayangan
Hatiku dihujam rindu, dibunuh kenangan
Jangan lagi matamu meneteskan hujan
Karena malam ini malam pertemuan
Sekian lama kumenanti hari,
Biar kutumpahkan segala sampah di hati,
Kan kuceritakan caraku melalui sepi
Tanpa-Mu tak kutemukan arti
Hanya rasaku pada-Mu yang terus abadi.
Kasih.
*Puisi ini terinspirasi dari buku mahakarya Jalaluddin Ar Rumi (lahul Fatihah) yang berjudul “Fihi ma Fihi“.
Buku yang mengulas kalam-kalam hikmah dan perjalanan spiritual beliau untuk wusul pada Tuhannya. Tarian menjadi cara beliau untuk menumpahkan rasa, menghilangkan sekat diri dengan Tuhan, membakar ego dan sifat keakuan.
Hingga suatu sore yang indah, beliau menghabiskan senja terakhirnya di dunia. Sahabat, keluarga dan para santri menangisinya. Tetapi beliau dengan senyuman di bibir berkata, “Kenapa kalian menangis? Aku ini bahagia akan bertemu Kekasihku.”
http://nun-media.com/2018/03/20/konfirmasi-tuhan-tasliyah-untuk-kekasih/
Lalu, adakah kekasih yang tak ingin bertemu Kekasihnya? Temui Kekasihmu dalam dirimu, malammu dan sujudmu. Sampai kau rasakan nikmatnya “mati” sebelum kau mati. Bertemu sebelum kau benar-benar bertemu.
oleh : Fitriatul Ummah
